Tuhanku tidak akan pernah mengecewakanku.
Wajah Ibuku adalah semangatku setiap hari untuk melakukan aktivitas, kalimat-kalimat panjangnya yang bisa memanjang dari satu orang menjadi lima orang, bagaimana ia selalu memasuki masing-masing ruangan dari insan yang ia hadirkan di dunia ini hanya untuk menanyakan apakah kain bercorak bunga-bunga yang ia kenakan terlihat cantik atau sebaliknya. Meskipun rasa jengkel selalu dan pasti akan ada, lebih baik seperti ini daripada telinga kami tidak akan melihatnya lagi. Kupandangi wajah tenang itu setiap waktu, kembali melantunkan doa kepada Tuhanku akan kebahagiaannya dan suaminya. "Tuhan, ia Ibuku, tolong bahagiakan dia disetiap embusan napasnya" berdoa saja tidak cukup untuk kebahagiaannya, aku harus berusaha. Ya, aku harus berusaha.
Pikiran akan datangnya masa depan ini sangat merusak diri, waktu terus berdetik tanpa mengenal kata tunggu, hidup selalu berjalan tak memikirkan kewarasan sang diri, kemana ini tujuannya, Tuhan?
Sebuah buku berwarna Biru yang diberikan ayahku menjadi saksi bisu antara aku dan semua keinginanku. Mulai dari deretan kalimat yang ingin aku capai, ayat-ayat untuk kesalamatan diriku, dan secarik harapan kepada Sang Pencipta. "Tolong... Tuhan" selalu ada disetiap lembar buku ini. Entahlah, bagaimana bisa aku menjadi orang yang sangat pasrah ini, pastinya yang aku tahu. Tuhanku tidak akan pernah mengecewakanku.

